Model Hidrodinamika

Model matematik hidraulika (model hidrodinamika) pada tiga dekade terakhir ini telah memainkan peran penting dalam berbagai disiplin ilmu mekanika fluida, baik dalam penelitian, enjinering, maupun industri. Tidak ketinggalan, dalam bidang hidraulika, model matematik hidraulik (untuk selanjutnya disebut model matematik) pun semakin menampakkan eksistensinya yang ditunjukkan dengan semakin seringnya model matematik dipakai dalam pekerjaan enjiniring, dalam tahap studi maupun perancangan. Tingkat penerimaan dan keyakinan orang terhadap model matematik sebagai alat utama dalam pekerjaan enjiniring cukup tinggi. Hal ini dibarengi dengan tingkat penerimaan dan keyakinan yang sama yang ditujukan terhadap produk pekerjaan enjiniring dimana model matematik merupakan alat utama. Tidak jarang, bahkan, model matematik justru disyaratkan pemakaiaannya.

Ketersediaan paket program komersial model matematik saat ini cukup terjamin, baik model satu dimensi (1D) maupun dua dimensi (2D). Bahkan, model tiga dimensi (3D) pun sudah mulai banyak dijumpai, walaupun sebagian besar tidak secara spesifik dibuat untuk pemakaian di bidang hidraulika, namun lebih ditujukan untuk pemakaian di bidang dinamika fluida (lebih dikenal dengan CFD, computational fluid dynamics). Berbagai paket program komersial tersebut pun dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dipakai (user friendly) dan hasilnya mudah dibaca (walaupun belum tentu mudah dicerna) karena umumnya dikemas dengan tampilan grafik aneka warna. Baca artikel lengkap…

This entry was posted in Computational Fluid Dynamics, Hidraulika and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Model Hidrodinamika

  1. arwan kahfi says:

    Kepada Yth. Pak Istiarto,

    Assalamualaikum, wr wb
    Perkenalkan saya Kahfi, peserta kursus HEC-RAS di UGM thn 2014,
    Ada pertanyaan yang berkaitan dengan hidraulika namun bukan untuk HEC-RAS pak atau artikel di atas dan pertanyaa ini sudah saya sampaikan ke email bapak,
    mohon kiranya saya dapat diberikan pencerahan.

    Adapun kasusnya sebagaimana yang saya lampirkan dalam file Pdf,

    Apakah penggunaan rumus head loss di bawah untuk belokan (bend) yang halus dengan belokan yang segmented atau tidak halus (patah-patah) sama?. Jika saya menggunakan formula :

    Hs =[ {0.131+0.162*(D/R)^(7/2)}*{d/90} ] * v2/(2*g).

    Jika saya menggunakan rumus di atas dimana segment itu dianggap sebagai bend, maka hasil head lossnya besar sekali karena nilai R dari segment itu adalah 0m, namun apabila karena jarak antar segement sangat dekat (L<D) tidak dianggap sebagai bend maka hasil menjadi normal.

    Mohon pencerahannya pak, apakah ada formula yang dapat saya gunakan untuk kasus bend segmented seperti contoh yang saya tampilkan di file pdf terlampir dimana hanya ada 2 segment untuk belokan 45 derajat.

    Wassalam,
    Terima kasih,

    Kahfi

    • Istiarto says:

      Wa’alaikumsalam ww

      Selamat siang. Apa kabar?

      Ini berkaitan dengan kehilangan energi di pipa berkelok kan ya? Kehilangan energi yang dialami aliran dalam pipa dikelompokkan menjadi kehilangan energi major, yang disebabkan oleh friksi aliran dengna pipa, dan kehilangan energi minor, yang antara lain terjadi di pipa berkelok. Kehilangan energi minor pada prinsipnya dapat sebanding dengan tinggi kecepatan, he = K (v^2/2g). Ada berbagai cara untuk menetapkan atau menghitung K ini, antara lain seperti yang Mas Arwan Kahfi sertakan dalam file yang dikirimkan kepada saya. Untuk menjawab pertanyaan Mas Arwan Kahfi, saya sertakan acuan lain sebagai bahan pertimbangan: http://web.deu.edu.tr/atiksu/ana58/friction.html. Di bagaian agak bawah, ada yang cocok untuk menjawab pertanyaan Mas Arwan.

      Semoga dapat membantu.

      Wassalamu’alaikum ww

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.