{"id":1045,"date":"2011-05-01T09:29:47","date_gmt":"2011-05-01T02:29:47","guid":{"rendered":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/?p=1045"},"modified":"2024-11-13T15:44:26","modified_gmt":"2024-11-13T08:44:26","slug":"problematika-jembatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/problematika-jembatan\/","title":{"rendered":"Problematika Jembatan di Sungai"},"content":{"rendered":"Problematika yang sudah beberapa kali ditemui di jembatan melintang sungai adalah kegagalan struktur bawah jembatan (fondasi, pilar, pangkal\/<em>abutment<\/em>) dalam menopang jembatan. Di beberapa kasus, kegagalan ini berujung keruntuhan jembatan. Ancaman terhadap keamanan struktur bawah jembatan sering kali bersumber dari dinamika sungai, khususnya dinamika dasar sungai di sekitar fondasi dan pilar jembatan. Penurunan atau degradasi dasar sungai dan gerusan lokal di sekitar fondasi-pilar jembatan sering kali menjadi faktor utama kegagalan struktur bawah jembatan. Banjir, khususnya banjir besar, dapat memperbesar degradasi dasar sungai dan gerusan lokal, yang pada gilirannya menambah ancaman terhadap keamanan struktur bawah jembatan.\r\n\r\nContoh keruntuhan jembatan dapat disaksikan di video yang diunggahkan ke YouTube oleh santos78fti. <a href=\"http:\/\/youtu.be\/OZmDacMfJrs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Klik di sini<\/a> untuk menyaksikan video tersebut. Dalam dokumentasi video tersebut, tampak bahwa keruntuhan jembatan diakibatkan oleh kegagalan fondasi jembatan dalam menghadapi degradasi dasar sungai. Dasar sungai turun sangat cepat, dipicu oleh <em>seepage<\/em> di bawah groundsill pengaman jembatan. Bagian ini dapat kita saksikan setelah video berputar separuh waktu.\r\n\r\nSeksi-seksi di bawah ini memaparkan beberapa contoh problematika jembatan yang berkaitan dengan faktor degradasi dasar sungai dan gerusan lokal di sekitar fondasi\/pilar jembatan.\r\n<h2>Jembatan Srandakan, Kulonprogo, Yogyakarta<\/h2>\r\n<div id=\"attachment_2759\" style=\"width: 1303px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-srandakan-kulonprogo-yogyakarta\/pilar-25-26-ambles\/\" rel=\"attachment wp-att-2759\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2759\" class=\"size-full wp-image-2759\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Pilar-25-26-ambles.png\" alt=\"\" width=\"1293\" height=\"871\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Pilar-25-26-ambles.png 1293w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Pilar-25-26-ambles-300x202.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Pilar-25-26-ambles-1024x689.png 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1293px) 100vw, 1293px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-2759\" class=\"wp-caption-text\">Pilar #25 dan #26 ables pada 20-21 April 2000, jembatan darurat dipasang untuk membuka akses kendaraan ringan melewati jembatan (foto diperoleh dari Tito A Wicaksono, Binar Marga DIY)<\/p><\/div>\r\n\r\nJembatan Srandakan melintas Sungai Progo, menghubungkan Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul dengan Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta. Jembatan Srandakan mulai dibangun pada 1925 dan diresmikan pada 1929 sebagai jembatan kereta api (lori) pengangkut tebu. Jembatan mengalami beberapa alih fungsi dan rehabilitasi. Pada 1951, jembatan difungsikan sebagai jembatan jalan raya. Pada 2000, dua dari 58 pilar jembatan turun (<em>amblas<\/em>) yang terjadi dalam dua hari berurutan. Pilar #25 turun pada 20 April 2000 dan pilar #26 turun pada hari berikutnya. Saat ini, Jembatan Srandakan tidak lagi berfungsi. Sebuah jembatan baru, Jembatan Srandakan II telah menggantikan jembatan lama pada 2007. <a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/?p=1413\">Baca artikel lengkap&#8230;<\/a>\r\n<h2>Jembatan Kebonagung, Sleman, Yogyakarta<\/h2>\r\n<div id=\"attachment_5440\" style=\"width: 2570px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/problematika-jembatan\/dscn2229\/\" rel=\"attachment wp-att-5440\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-5440\" class=\"size-full wp-image-5440\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSCN2229-scaled.jpg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1920\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSCN2229-scaled.jpg 2560w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSCN2229-300x225.jpg 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSCN2229-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSCN2229-768x576.jpg 768w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSCN2229-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSCN2229-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-5440\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan Kebonagung, Godean, Yogyakarta, 2006<\/p><\/div>\r\n\r\nJembatan Kebonagung melintas Sungai Progo, berlokasi di ruas jalan Kota Yogyakarta-Nanggulan\/Godean, di Kecamatan Minggir, Sleman, Yogyakarta. Jembatan bediri di atas 4 pilar silinder beton. Setiap pilar ditopang oleh dua buah fondasi sumuran. Pada awal 2000-an sampai 2006, terjadi degradasi dasar sungai dan gerusan lokal di sekitar sebagian pilar jembatan. Dari pengukuran tahun 2006, dasar sungai di pilar #4 (pilar pertama di sisi Nanggulan atau di sisi barat) telah mendekati dasar fondasi. Degradasi dasar sungai dipicu oleh keruntuhan groundsill di hilir jembatan. <a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/?p=1439\">Baca artikel lengkap&#8230;<\/a>\r\n<h2>Jembatan Trinil, Magelang, Jawa Tengah<\/h2>\r\n<div id=\"attachment_2828\" style=\"width: 1610px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-trinil-magelang-jawa-tengah\/img_0135\/\" rel=\"attachment wp-att-2828\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2828\" class=\"size-full wp-image-2828\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/IMG_0135.jpg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"1200\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/IMG_0135.jpg 1600w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/IMG_0135-300x225.jpg 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/IMG_0135-1024x768.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-2828\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan Trinil tampak dari hilir setelah pilar #3 ambles pada 25 Februari 2009 (foto diperoleh dari Ery Agung Kisworo)<\/p><\/div>\r\n\r\nJembatan Trinil melintas Sungai Progo, menghubungkan\u00a0Desa Kalijoso, Kecamatan Secang dengan Desa Banjarsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jembatan Trinil berdiri di atas 3 pilar dan fondasi pasangan batu kali. Panjang bentang jembatan lebih kurang 70 m. Pada 25 Februari 2009, pilar #3 (paling barat) turun (ambles) yang memutus lalul lintas melewati jembatan. Belum sempat jembatan diperbaiki, setahun kemudian pada 4 Maret 2010, terjadi banjir yang menyebabkan pilar #1 dan #2 miring dan turun. <a title=\"Jembatan Trinil, Magelang, Jawa Tengah\" href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-trinil-magelang-jawa-tengah\/\">Baca artikel lengkap&#8230;<\/a>\r\n<h2>Jembatan Pabelan, Magelang, Jawa Tengah<\/h2>\r\n<div id=\"attachment_2855\" style=\"width: 1536px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-pabelan-magelang-jawa-tengah\/bawah-jembatan\/\" rel=\"attachment wp-att-2855\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2855\" class=\"size-full wp-image-2855\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Bawah-jembatan.png\" alt=\"\" width=\"1526\" height=\"1151\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Bawah-jembatan.png 1526w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Bawah-jembatan-300x226.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Bawah-jembatan-1024x772.png 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1526px) 100vw, 1526px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-2855\" class=\"wp-caption-text\">Tampak bawah Jembatan Pabelan pasca banjir lahar hujan 30 Maret 2011<\/p><\/div>\r\n\r\nJembatan Pabelan melintas Sungai Progo di jalan raya Yogyakarta-Magelang. Di lokasi ini terdapat 2 jembatan, yaitu jembatan lama yang ditopang oleh pilar dan fondasi pasangan batu kali, serta jembatan baru yang ditopang oleh pilar beton. Pada Maret 2011, salah satu bentang jembatan lama hilang diterjang banjir lahar hujan (sebagian orang menyebut banjir lahar dingin). <a title=\"Jembatan Pabelan, Magelang, Jawa Tengah\" href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-pabelan-magelang-jawa-tengah\/\">Baca artikel lengkap&#8230;<\/a>\r\n<h2>Jembatan KA BH 474 Comal, Pemalang, Jawa Tengah<\/h2>\r\n<div id=\"attachment_2738\" style=\"width: 603px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-ka-comal-jawa-tengah\/penurunan-pilar\/\" rel=\"attachment wp-att-2738\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2738\" class=\"wp-image-2738 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Penurunan-pilar.jpg\" alt=\"\" width=\"593\" height=\"462\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Penurunan-pilar.jpg 593w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Penurunan-pilar-300x233.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 593px) 100vw, 593px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-2738\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan kereta api di Comal, Jawa Tengah, 2001 (foto diperoleh dari PT Kereta Api (Persero))<\/p><\/div>\r\n\r\nJembatan ini merupakan jembatan kereta api lintas Pekalongan-Tegal, tepatnya di antara Comal-Petarukan, dikenal pula dengan nama Jembatan BH 474. Jembatan ini melintas Sungai Comal. Bentang jembatan 60+60+12 m, ditopang oleh sebuah pilar pasangan batu kali di atas fondasi sumuran\u00a0dan sebuah pilar beton di atas fondasi tiang pancang. Jembatan dibangun pada akhir abad ke-19. Pada Juni 2001, pilar pasangan batu kali miring akibat fondasi di bawahnya ambles sedalam 188 cm. <a title=\"Jembatan Comal, Jawa Tengah\" href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-ka-comal-jawa-tengah\/\">Baca artikel lengkap&#8230;<\/a>\r\n\r\n<!-- \/wp:post-content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Problematika yang sudah beberapa kali ditemui di jembatan melintang sungai adalah kegagalan struktur bawah jembatan (fondasi, pilar, pangkal\/abutment) dalam menopang jembatan. Di beberapa kasus, kegagalan ini berujung keruntuhan jembatan. Ancaman terhadap keamanan struktur bawah jembatan sering kali bersumber dari dinamika &hellip; <a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/problematika-jembatan\/\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1108,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[25,26,12],"class_list":["post-1045","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-gerusan-lokal-di-pilar-jembatan","tag-hidraulika","tag-jembatan","tag-teknik-sungai"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1045","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1108"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1045"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1045\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6431,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1045\/revisions\/6431"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1045"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1045"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1045"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}