{"id":1447,"date":"2011-05-01T09:26:48","date_gmt":"2011-05-01T02:26:48","guid":{"rendered":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/?p=1447"},"modified":"2025-10-24T05:13:25","modified_gmt":"2025-10-23T22:13:25","slug":"jembatan-trinil-magelang-jawa-tengah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-trinil-magelang-jawa-tengah\/","title":{"rendered":"Jembatan Trinil, Magelang, Jawa Tengah"},"content":{"rendered":"<p>Jembatan Trinil melintas Sungai Progo, menghubungkan\u00a0Desa Kalijoso, Kecamatan Secang dengan Desa Banjarsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jembatan Trinil dapat dicapai dari jalan Magelang-Secang, berbelok ke kiri (ke barat) di Payaman, kemudian menyusur jalan yang menghubungkan Desa Kalijoso dan Desa Banjarsari.\u00a0Posisi jembatan berada pada koordinat bujur dan lintang 110\u00b012&#8217;54&#8221;\u00a0BT, 7\u00b024&#8217;36&#8221;\u00a0LS atau pada koordinat UTM 49\u00a0M 413374\u00a0m E, 9180846\u00a0m S. Jarak perjalanan darat ke Jembatan Trinil dari Mungkid, ibukota Kabupaten Magelang, adalah sekira 25 km.<\/p>\r\n<div id=\"attachment_7047\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7047\" class=\"wp-image-7047 size-large\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-125354-1024x624.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"390\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-125354-1024x624.png 1024w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-125354-300x183.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-125354-768x468.png 768w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-125354-1536x935.png 1536w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-125354.png 1808w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-7047\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan Trinil, melintasi Sungai Progo di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (imaji Apple&#8217;s Maps)<\/p><\/div>\r\n<p>Tulisan ini mengacu kepada peristiwa kegagalan pilar\/fondasi jembatan pada 2009 dan 2010. Pada kejadian\u00a0itu, pilar\/fondasi jembatan ambles dan mengakibatkan penurunan gelagar jembatan.<\/p>\r\n<p>Jembatan Trinil dibangun pada 1972. Jembatan berdiri di atas 3 pilar pasangan batu kali yang ditopang oleh fondasi dangkal. Panjang bentang jembatan lebih kurang 70 m. Pada 2007 dilaporkan adanya indikasi gerusan lokal di\u00a0pilar #1 (pilar paling timur, di sisi Kalijoso). Pada 2008, dilakukan pekerjaan rehabilitasi jembatan, berupa penggantian struktur atas. Struktur bawah tidak mengalami perubahan berarti, hanya pemberian lapis plesteran pada pilar.<\/p>\r\n<div id=\"attachment_7049\" style=\"width: 1032px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7049\" class=\"wp-image-7049 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213424.png\" alt=\"\" width=\"1022\" height=\"584\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213424.png 1022w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213424-300x171.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213424-768x439.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1022px) 100vw, 1022px\" \/><p id=\"caption-attachment-7049\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan Trinil pada periode 1972-2008, tampak dari sisi hulu, difoto pada 2008 sebelum pelaksanaan rehabilitasi (foto diperoleh dari Dinas PU dan ESDM Kabupaten Magelang)<\/p><\/div>\r\n<p>Pada 25 dan 28 Februari 2009, pilar #3 (paling barat) turun (ambles) yang memutuskan lalu lintas melewati jembatan. Belum sempat jembatan diperbaiki, setahun kemudian pada 4 Maret 2010, pilar #1 dan #2 miring karena fondasi yang menyangganya ambles.<\/p>\r\n<p>Pada peristiwa yang pertama, laporan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Sumberdaya Mineral Kabupaten Magelang menyebutkan bahwa Rabu, 25 Februari 2009, sore hari pukul 16:00 sampai dengan 18:00, aliran banjir melewati Jembatan Trinil. Menurut laporan yang sama, aliran air melimpas lebih kurang 20 cm di atas lantai jembatan. Pilar #3 turun dan mengakibatkan plat lantai nomor 3 dan 4 bergeser lebih kurang 2 cm. Pada Sabtu, 28 Februari 2009, sekitar pukul 11:30, pilar #3 turun 50 cm hingga lalu lintas tidak dapat lagi melewati jembatan.<\/p>\r\n<p>Sebuah jembatan darurat tipe bailey kemudian\u00a0dipasang di atas bentang #3 dan #4 untuk memfasilitasi lalu lintas melewati jembatan.<\/p>\r\n<p>Memperhatikan foto-foto Jembatan Trinil pasca pilar #3 ambles serta membaca laporan adanya aliran banjir yang melimpas melewati jembatan, maka dapat diduga bahwa\u00a0pilar jembatan mengalami gerusan lokal dan pembebanan horizontal oleh gaya hidrodinamik aliran banjir. Degradasi dasar sungai tidak terjadi karena adanya groundsill di hilir jembatan.<\/p>\r\n<div id=\"attachment_7050\" style=\"width: 1030px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7050\" class=\"wp-image-7050 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213826.png\" alt=\"\" width=\"1020\" height=\"674\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213826.png 1020w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213826-300x198.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-213826-768x507.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1020px) 100vw, 1020px\" \/><p id=\"caption-attachment-7050\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan Trinil tampak dari hilir setelah pilar #3 ambles pada 28\u00a0Februari 2009; tampak sebuah groundsill di latar depan; groundsill mencegah degradasi dasar sungai (foto diperoleh dari Ery Agung Kisworo)<\/p><\/div>\r\n<div id=\"attachment_7051\" style=\"width: 1031px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7051\" class=\"wp-image-7051 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214140.png\" alt=\"\" width=\"1021\" height=\"766\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214140.png 1021w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214140-300x225.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214140-768x576.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1021px) 100vw, 1021px\" \/><p id=\"caption-attachment-7051\" class=\"wp-caption-text\">Tampak hilir bentang #3 dan #4 yang miring setelah pilar #3 ambles pada 28 Februari 2009; sebuah jembatan darurat tipy bailey ditempatkan di atas bentang #3-#4 (foto diperoleh dari Ery Agung Kisworo)<\/p><\/div>\r\n<p>Setahun kemudian, pada Kamis 5 Maret 2010, pilar #1 dan #2 ambles. Menurut laporan Dinas Pekerjaan Umum dan Sumberdaya Mineral Kabupaten Magelang, pada hari itu terjadi\u00a0hujan deras pada pukul 16:00 yang disusul dengan aliran banjir melewati Jembatan Trinil pada pukul 18:00. Aliran banjir melimpas sampai 80 cm di atas lantai jembatan. Kerusakan pada pilar jembatan meliputi fondasi pilar #1 (pilar paling timur, di sisi\u00a0Kalijoso)\u00a0ambles dan pilar #1 miring ke arah hilir sedalam 80 cm, serta fondasi pilar #2\u00a0(pilar\u00a0tengah) ambles dan pilar #2 miring ke arah hilir sedalam 100 cm. Kedua pilar tersebut bergeser 1.5 m ke arah hilir pada bagian tengah, mengakibatkan jembatan darurat bailey yang dibangun pada 2009 miring. Pilar #3\u00a0yang sudah miring pada 2009, tidak berubah.<\/p>\r\n<p>Dengan peristiwa ini, semua pilar\/fondasi telah ambles dan miring. Jembatan tidak dapat lagi dilewati, lalu lintas melewati jembatan sepenuhnya terputus. Foto-foto di bawah ini penulis ambil pada 12 dan 21 Maret 2010, beberapa\u00a0hari setelah pilar #1 dan #2 ambles.<\/p>\r\n<div id=\"attachment_7052\" style=\"width: 1031px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7052\" class=\"wp-image-7052 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214702.png\" alt=\"\" width=\"1021\" height=\"678\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214702.png 1021w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214702-300x199.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-214702-768x510.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1021px) 100vw, 1021px\" \/><p id=\"caption-attachment-7052\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan Trinil tampak dari hilir setelah ketiga pilar ambles pada 4 Maret 2010, foto diambil pada 12 Maret 2010<\/p><\/div>\r\n<div id=\"attachment_7053\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7053\" class=\"wp-image-7053 size-large\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00966-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00966-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00966-300x225.jpg 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00966-768x576.jpg 768w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00966-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00966.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-7053\" class=\"wp-caption-text\">Jembatan Trinil tampak dari hulu setelah ketiga pilar ambles pada 4 Maret 2010, foto diambil pada 12 Maret 2010<\/p><\/div>\r\n<div id=\"attachment_7054\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7054\" class=\"wp-image-7054 size-large\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00975-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00975-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00975-300x225.jpg 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00975-768x576.jpg 768w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00975-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC00975.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-7054\" class=\"wp-caption-text\">Aliran di groundsill yang berada di hilir Jembatan Trinil, foto diambil pada 12 Maret 2010<\/p><\/div>\r\n<p>Sebuah jembatan darurat tipe Bailey kembali dibangun membentang alur di atas jembatan yang telah miring.<\/p>\r\n<div id=\"attachment_7055\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7055\" class=\"wp-image-7055 size-large\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC01053-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC01053-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC01053-300x225.jpg 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC01053-768x576.jpg 768w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC01053-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/DSC01053.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-7055\" class=\"wp-caption-text\">Tampak hulu Jembatan darurat bailey di atas Jembatan Trinil setelah\u00a0ketiga pilar ambles pada 4 Maret 2010, foto diambil pada 21 Maret 2010<\/p><\/div>\r\n<p>Pada tahun 2014, sebuah jembatan baru telah dibangun di sisi hulu jembatan lama. Gambar di bawah menampilkan sejumlah foto yang menunjukkan rangkaian Jembatan Trinil dari masa sebelum pekerjaan rehabilitasi 2008 sampai dengan keadaan saat ini, pada 2014. Saat ini, 2014, semua pilar jembatan dalam posisi miring dan jembatan tidak berfungsi.<\/p>\r\n<div id=\"attachment_7094\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7094\" class=\"size-large wp-image-7094\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Denah-situasi-Jembatan-Trinil-2014-1024x548.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"343\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Denah-situasi-Jembatan-Trinil-2014-1024x548.jpg 1024w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Denah-situasi-Jembatan-Trinil-2014-300x161.jpg 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Denah-situasi-Jembatan-Trinil-2014-768x411.jpg 768w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Denah-situasi-Jembatan-Trinil-2014.jpg 1272w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-7094\" class=\"wp-caption-text\">Situasi Jembatan Trinil pada 2014 setelah pembangunan jembatan baru<\/p><\/div>\r\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7056\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-220304.png\" alt=\"\" width=\"555\" height=\"779\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-220304.png 555w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-220304-214x300.png 214w\" sizes=\"auto, (max-width: 555px) 100vw, 555px\" \/><\/p>\r\n<h2>Prediksi Kedalaman Gerusan Lokal<\/h2>\r\n<p>Memperhatikan laporan adanya aliran banjir yang melimpas di atas jembatan serta mengingat adanya groundsill di hilir jembatan, maka dugaan adanya gerusan lokal di pilar jembatan sebagai salah satu pemicu amblesnya pilar\/fondasi jembatan sangat kuat. Penulis telah melakukan kajian untuk memprediksi kedalaman gerusan lokal di pilar Jembatan Trinil.<\/p>\r\n<p>Kajian diawali dengan rekonstruksi aliran banjir Sungai Progo di Jembatan Trinil pada 4 Maret 2010. Ini dilakukan untuk memperkirakan kedalaman dan kecepatan aliran\u00a0banjir di Jembatan Trinil pada saat itu. Penulis dan tim kajian yang terdiri dari kolega, mahasiswa, serta surveyor, mengumpulkan data:<\/p>\r\n<ul>\r\n<li>debit aliran pada 4 Maret 2010 di Bendung Badran yang berada 5 km di hulu Jembatan Trinil, diperoleh dengan cara mengonversi data muka air di Stasiun AWLR Badran menjadi debit aliran berdasarkan liku kalibrasi debit Bendung Badran,<\/li>\r\n<li>curah hujan pada 4 Maret 2010 di Stasiun ARR Badran,<\/li>\r\n<li>geometri sungai di sekitar Jembatan Trinil dari groundsill di hilir jembatan sampai 1 km\u00a0ke hulu, diukur secara terestris,<\/li>\r\n<li>ukuran butir material dasar sungai di Jembatan Trinil.<\/li>\r\n<\/ul>\r\n<p>Rekonstruksi banjir dilakukan dengan bantuan program aplikasi HEC-RAS. Batas hulu domain model berada 1 km di hulu jembatan dan batas hilir domain model adalah groundsill di hilir jembatan. Syarat batas di hulu adalah hidrograf banjir yang diperoleh dengan cara penelusuran banjir hidrologis berdasarkan hidrograf banjir di Bendung Badran, sedangkan syarat batas hilir adalah muka air kritis di groundsill. Kalibrasi model aliran dilakukan berdasarkan informasi bahwa banjir melimpas 80 cm di atas lantai jembatan. Rekonstruksi ini memberikan informasi bahwa pada banjir 4 Maret 2010 di Jembatan Trinil kedalaman aliran adalah 7 m, kecepatan aliran tertinggi adalah 3.3 m\/s, dan debit puncak adalah 1125 m^3\/s.<\/p>\r\n<p>Kedalaman gerusan dasar sungai di pilar\/fondasi Jembatan Trinil diperkirakan dengan memakai Persamaan CSU, yang berlaku pada gerusan tipe clear-water maupun live-bed.<\/p>\r\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7060\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221522.png\" alt=\"\" width=\"368\" height=\"47\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221522.png 368w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221522-300x38.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 368px) 100vw, 368px\" \/><\/p>\r\n<p>Kedalaman gerusan di pilar jembatan dapat pula diperkirakan dengan memakai Persamaan Froehlich, yang biasanya dipakai untuk memperkirakan kedalaman gerusan lokal di pilar jembatan pada perencanaan teknis jembatan. Persamaan Froehlich dapat dituliskan sebagai berikut.<\/p>\r\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7061\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221535.png\" alt=\"\" width=\"443\" height=\"49\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221535.png 443w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221535-300x33.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 443px) 100vw, 443px\" \/><\/p>\r\n<p>Dalam Persamaan CSU dan Persamaan Froehlich tersebut, <em>d<sub>s<\/sub><\/em> adalah kedalaman gerusan lokal di pilar jembatan,\u00a0<em>K<\/em><sub>1<\/sub>, <em>K<\/em><sub>2<\/sub>,<em> K<\/em><sub>3<\/sub>,<em> K<\/em><sub>4<\/sub>\u00a0masing-masing adalah koefisien (faktor koreksi) yang merepresentasikan pengaruh bentuk pilar, arah (sudut datang) aliran, butir sedimen dasar, serta <em>armoring<\/em> butir sedimen dasar, \u03c6 adalah faktor koreksi yang merupakan fungsi bentuk pilar,\u00a0<em>D<sub>p\u00a0<\/sub><\/em>adalah diameter pilar, <em>h<\/em><sub>1<\/sub> adalah kedalaman aliran di sisi hulu jembatan, dan\u00a0Fr<sub>1<\/sub>\u00a0adalah Angka Froude aliran di sisi hulu jembatan. CSU membatasi kedalaman gerusan, yaitu <em>d<sub>s<\/sub><\/em>\u00a0\u2264 2.4\u00a0<em>D<sub>p<\/sub><\/em> jika Fr\u00a0\u2264 0.8 dan <em>d<sub>s<\/sub><\/em>\u00a0\u2264 3\u00a0<em>D<sub>p<\/sub><\/em> jika Fr\u00a0&gt; 0.8.<\/p>\r\n<p>Data geometri pilar, ukuran butir material dasar, serta parameter aliran adalah:<\/p>\r\n<ul>\r\n<li>diameter butiran\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 2 mm<\/li>\r\n<li>lebar pilar \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : 3 m<\/li>\r\n<li>panjang pilar \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0: 6.1 m<\/li>\r\n<li>kedalaman aliran\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 7 m<\/li>\r\n<li>kecepatan aliran\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 3.3 m\/s<\/li>\r\n<li>Angka Froude \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : 0.4<\/li>\r\n<\/ul>\r\n<p>Persamaan CSU memberikan prediksi kedalaman gerusan di pilar Jembatan Trinil pada banjir 4 Maret 2010 sebesar 2.6 m, sedangkan Persamaan Froehlich memberikan prediksi kedalaman gerusan yang lebih besar, yaitu 4.8 m. Dari kedua angka ini, dapat diperkirakan bahwa kedalaman gerusan yang terjadi pada saat banjir 4 Maret 2010 telah melampaui dasar fondasi pilar Jembatan Trinil, yaitu 2 m. Dengan demikian, sangatlah kuat dugaan bahwa pilar Jembatan Trinil ambles akibat gerusan lokal dasar sungai di pilar\/fondasi jembatan.<\/p>\r\n<div id=\"attachment_7057\" style=\"width: 790px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7057\" class=\"wp-image-7057 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221028.png\" alt=\"\" width=\"780\" height=\"504\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221028.png 780w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221028-300x194.png 300w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221028-768x496.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 780px) 100vw, 780px\" \/><p id=\"caption-attachment-7057\" class=\"wp-caption-text\">Hidrograf aliran banjir 4 Maret 2010 di Bendung Badran (warna cyan) dan di 1 km hulu Jembatan Trinil (warna kuning)<\/p><\/div>\r\n<div id=\"attachment_7058\" style=\"width: 718px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7058\" class=\"wp-image-7058 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221056.png\" alt=\"\" width=\"708\" height=\"433\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221056.png 708w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221056-300x183.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 708px) 100vw, 708px\" \/><p id=\"caption-attachment-7058\" class=\"wp-caption-text\">Profil muka air banjir 4 Maret 2010 di Jembatan Trinil hasil simulasi dengan HEC-RAS<\/p><\/div>\r\n<div id=\"attachment_7059\" style=\"width: 720px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-7059\" class=\"wp-image-7059 size-full\" src=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221110.png\" alt=\"\" width=\"710\" height=\"433\" srcset=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221110.png 710w, https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/Screenshot-2025-10-22-221110-300x183.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 710px) 100vw, 710px\" \/><p id=\"caption-attachment-7059\" class=\"wp-caption-text\">Muka air banjir maksimum di Jembatan Trinil pada 4 Maret 2010 hasil simulasi dengan HEC-RAS<\/p><\/div>\r\n<h2>Tayangan yang Berkaitan<\/h2>\r\n<ol>\r\n<li>Artikel tentang\u00a0<a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/problematika-jembatan\/\">problematika jembatan di sungai<\/a>.<\/li>\r\n<li>Mekanisme <a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/files\/TS09-Gerusan-Lokal.pdf\">gerusan lokal<\/a> dan persamaan empiris untuk menghitung kedalaman gerusan lokal.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n<h2>Sumber<\/h2>\r\n<ol>\r\n<li>Catatan dan laporan mengenai peristiwa pilar Jembatan Trinil ambles yang disusun oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Sumberdaya Mineral Kabupaten Magelang.<\/li>\r\n<li>Laporan kajian Jembatan Trinil oleh Sekolah Pascasarjana UGM untuk DPRD Kabupaten Magelang.<\/li>\r\n<li>Dokumentasi pribadi.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jembatan Trinil melintas Sungai Progo, menghubungkan\u00a0Desa Kalijoso, Kecamatan Secang dengan Desa Banjarsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jembatan Trinil dapat dicapai dari jalan Magelang-Secang, berbelok ke kiri (ke barat) di Payaman, kemudian menyusur jalan yang menghubungkan Desa Kalijoso dan &hellip; <a href=\"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/2011\/05\/jembatan-trinil-magelang-jawa-tengah\/\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1108,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[25,26,12],"class_list":["post-1447","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-gerusan-lokal-di-pilar-jembatan","tag-hidraulika","tag-jembatan","tag-teknik-sungai"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1447","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1108"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1447"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1447\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7159,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1447\/revisions\/7159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1447"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1447"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/istiarto.staff.ugm.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1447"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}