HEC-RAS: Bridge Scour

Salah satu pengunjung website saya beberapa hari yang lalu menanyakan tentang contoh (cara memperkirakan) bridge scour, atau gerusan lokal di sekitar pilar dan pangkal jembatan. Tentu saja, HEC-RAS menyediakannya. Paparan mengenai contoh aplikasi HEC-RAS untuk menghitung bridge scour ada di HEC-RAS Applications Guide, Chapter 11. Petunjuk cara pemakaian fitur ada di HEC-RAS User’s Manual, Chapter 12. Penjelasan mengenai metode hitungan dan persamaan-persamaan bridge scour ada di HEC-RAS Hydraulic Reference Manual, Chapter 10.

Untuk menambah bahan bacaan, di sini saya berikan satu contoh hitungan bridge scour. Saya mengacu pada contoh jembatan yang ada di modul HEC-RAS Lanjut: Junction and Inline Structures, Sub-bab 3.1. Di dalam modul tersebut (versi saat ini), contoh bridge scour belum ada. Saya berasumsi pembaca telah pernah membaca Sub-bab 3.1 tersebut dan telah mencoba mempraktekkan simulasi aliran melalui jembatan. Di sini, saya tidak membahas persamaan-persamaan untuk menghitung kedalaman bridge scour.

Simulasi Aliran

Langkah awal dalam menghitung kedalaman bridge scour adalah melakukan analisis aliran (simulasi aliran) untuk menghitung parameter hidraulika aliran yang melewati jembatan. Mengingat kedalaman bridge scour ditujukan untuk memperkirakan kedalaman scour maximum yang berpotensi terjadi di sekitar jembatan, umumnya dalam tahap desain jembatan, maka cukup dibutuhkan parameter aliran pada debit desain. Dengan demikian, cukup dilakukan steady flow analysis; tidak perlu melakukan unsteady flow anaylsis. Sepanjang pengetahuan saya, Indonesia belum memiliki acuan mengenai debit desain untuk keperluan perkiraan kedalaman bridge scour (mungkin saya salah, please comment). Kalau mengikuti acuan di Amerika Serikat, kedalaman bridge scour dihitung pada debit desain Q100. Kontrol kemudian dilakukan terhadap kedalaman fondasi vis a vis kedalaman bridge scour pada debit Q500.

Pada contoh ini, kedalaman bridge scour dihitung dengan debit 500 m3/s di S. Tirtaraya reach Hulu dan 110 m3/s di S. Tirtagiri reach Gunung.

Simulation Plan

Buat simulation plan baru untuk keperluan hitungan kedalaman bridge sccour ini.

  1. Aktifkan layar Steady Flow Analysis. Pilih “Jembatan” pada pilihan Geometry File.
  2. Aktifkan layar editor Steady Flow Data. Masukkan data debit pada setiap batas hulu reach seperti tampak pada Gambar 1. Simpan file data aliran permanen (steady flow data) yang baru dibuat ini ke dalam file dengan judul “Gerusan lokal di pilar jembatan”.
  3. Definisikan syarat batas hilir di setiap reach dengan mengklik tombol Reach Boundary Conditions… yang ada pada layar editor Steady Flow Data. Pilih Rating Curve sebagai batas hilir S. Tirtaraya reach Hilir dan S. Tirtabaru reach Kanal Banjir. Masukkan angka-angka koordinat rating curve seperti tampak pada Gambar 2.
  4. Kembali ke layar Steady Flow Analysis dan tambahkan kalimat seperlunya di bagian Plan Description. Simpan file Plan dengan judul “Gerusan lokal di sekitar pilar jembatan” dan ShortID “BridgeScour” (lihat Gambar 3).

image

Gambar 1: Syarat batas debit aliran di batas hulu setiap reach

image

image  image

Gambar 2: Syarat batas rating curve di batas hilir S. Tirtaraya reach Hilir dan S. Tirtabaru reach Kanal Banjir

image

Gambar 3: Layar Steady Flow Analysis pada simulasi bridge scour

Flow Optimization

Syarat batas debit di hulu reach Tirtaraya Hilir adalah 366 m3/s dan di Kanal Banjir adalah 244 m3/s. Angka ini adalah perkiraan, mengingat distribusi debit di Junction Gelang tidak diketahui. Ini berbeda dengan debit di batas hulu Tirtaraya Tengah karena Junction Tanggi merupakan pertemuan (confluence) dua anak sungai. Debit di Tirtaraya Tengah merupakan jumlah debit dari Tirtaraya Hulu dan Tirtagiri Gunung. Junction Gelang merupakan percabangan (bifurcation). Di Junction Gelang, aliran dari Tirtaraya Tengah sebagian mengalir ke Tirtaraya Hilir dan sebagian yang lain mengalir ke Tirtabaru Kanal Banjir. HEC-RAS menyediakan opsi Flow Optimizations untuk menghitung distribusi debit di tempat seperti Junction Gelang tersebut.

Pada layar Steady Flow Analysis, pilih menu Options | Flow Optimizations … dan klik pada Junction Gelang seperti tampak pada Gambar 4.

Dengan pengaktifan opsi ini, maka HEC-RAS akan melakukan hitungan debit di Junction Gelang secara iteratif. HEC-RAS akan menghitung distribusi debit ke Tirtaraya Hilir dan Tirtabaru Kanal Banjir sedemikian hingga tinggi energi tepat di hilir junction, yang diperoleh dari Tirtaraya Hilir dan Tirtabaru Kanal Banjir, akan sama atau selisih keduanya lebih kecil daripada nilai toleransi (default 0.02 ft).

image

Gambar 4: Opsi flow optimization dalam hitungan debit di Juntion Gelang

Flow Distribution

Salah satu langkah penting yang harus dilakukan dalam simulasi aliran untuk menghitung kedalaman bridge scour adalah pengaktifan opsi Flow Distribution Location. Bridge scour analysis memerlukan informasi distribusi aliran di 3 tampang lintang (cross section), yaitu di tampang lintang jembatan, tampang lintang persis di hulu jembatan, dan tampang lintang di approach flow. Di Bab 3 ketiga tampang lintang ini dinamai cross section jembatan, cross section nomor 3, dan cross section nomor 4. Agar HEC-RAS menghitung distribusi aliran di suatu tampang, maka tampang lintang tersebut dibagi menjadi beberapa pias.

Pada layar Steady Flow Analysis, pilih menu Options | Flow Distribution Locations … Pilih River Sungai Tirtaraya, Reach Hulu. Pilih Upstream RS 5920 dan Downstream RS 5875 (lihat Gambar 5). Pilihan ini akan menetapkan cross section nomor 5920, 5905, 5900, 5890, dan 5875 sebagai tampang lintang yang akan dihitung distribusi alirannya. HEC-RAS sebenarnya hanya memerlukan distribusi aliran di cross section 5920, 5905, dan 5900, namun tidak ada salahnya untuk melakukannya pula pada tampang lintang di hilir jembatan, yaitu cross section 5890 dan 5875. Bahkan, dapat pula dilakukan pada semua cross section. Gambar 5 menunjukkan cross section 5890 sampai 5875 dibagi menjadi 31 pias, yaitu masing-masing 7 pias di left dan right overbank, serta 17 pias di main channel. Klik tombol Set Selected Range untuk mengeksekusi pembagian cross section tersebut. Apabila ingin mengubah jumlah pias, jangan lupa untuk mengklik tombol Clear All sebelum melakukan perubahan.

Jumlah pias (SubSections) di left overbank, main channel, right overbank ditentukan dengan memperhatikan bentuk tampang lintang dan pola aliran di sungai tersebut. Jumlah pias maximum dalam satu cross section adalah 45. Satu langkah yang baik dalam melakukan hitungan bridge scour adalah dengan melakukan semacam sensitivity analysis jumlah pembagian pias. Yang dicari adalah jumlah pias sedemikian hingga kedalaman bridge scour tidak berubah terhadap perubahan jumlah pias.

image

Gambar 5: Jumlah pias untuk hitungan distribusi aliran di cross section sekitar jembatan

Flow Computation

Setelah opsi Flow Distribution Location diaktifkan dan jumlah pias di cross section sekitar jembatan ditetapkan, lakukan hitungan aliran dengan mengklik tombol Compute. Jangan lupa untuk menyimpan file Plan terlebih dulu melalui menu File | Save Plan. Setelah hitungan aliran selesai, baru hitungan kedalaman bridge scour dapat dilakukan.

Kedalaman Bridge Scour

Hitungan kedalaman bridge scour dilakukan melalui menu Run | Hydraulic Design Functions … atau dengan mengklik papan tombol ke-13 dari kiri pada layar utama HEC-RAS. Apabila layar belum menunjukkan Hydraulic Design | Bridge Scour, pilih menu Type | Bridge Scour ….

Pada layar Bridge Scour, pilih River Sungai Tirtaraya dan Reach Hulu. Layar seharusnya sudah menunjukkan Profile PF 1 dan River Sta. 5900 BR. Apabila belum, atur hingga menunjukkan Profile PF 1 dan River Sta. 5900 BR.

HEC-RAS menyediakan 3 pilihan hitungan scour, yaitu Contraction, Pier, dan Abutment.

Contraction Scour

Data yang dibutuhkan untuk menghitung contraction scour hampir semua telah secara automatis diambil sendiri oleh HEC-RAS dari output hasil hitungan aliran di 3 cross section, yaitu di jembatan, di hulu jembatan, dan di approach flow. Data yang diinputkan oleh pengguna adalah d50 dalam satuan milimeter dan koefisien K1 (lihat Gambar 6).

image

Gambar 6: Layar editor data hitungan contraction scour

Dalam contoh ini, diameter sedimen d50 adalah 2.1 mm, baik di left overbank, main channel, maupun right overbank. Nilai K1 dihitung oleh HEC-RAS berdasarkan nilai temperatur air yang diinputkan oleh pengguna. Klik tombol K1 … dan tuliskan 26 pada isian data Water Temp (C). HEC-RAS menghitung K1 bernilai 0.640.

HEC-RAS menghitung contraction scour dengan persamaan Laursen versi clear-water scour atau Laursen versi live-bed scour. Pengguna dapat memilih salah satu dari kedua versi persamaan tersebut, namun sebaiknya pilihan diserahkan kepada HEC-RAS. Biarkan pilihan Equation pada posisi Default.

Contraction scour dapat dihitung dengan mengklik tombol Compute sekarang atau setelah penginputan data untuk hitungan pier scour dan abutment scour selesai dilakukan. Saat tombol Compute diklik, HEC-RAS melakukan hitungan contraction, pier, dan abutment scour. Oleh karena itu, di sini input data untuk ketiga hitungan scour akan diselesaikan lebih dulu, baru dilakukan hitungannya.

Pier Scour

HEC-RAS menghitung pier scour dengan persamaan CSU (California State University) atau Froehlich. Dalam contoh ini, pier scour dihitung dengan persamaan CSU (lihat Gambar 7).

image

Gambar 7: Layar editor data hitungan pier scour

Data yang diinputkan oleh pengguna ada 4 jenis, yaitu bentuk pilar, sudut datang aliran menuju ke pilar (Angle), bentuk dasar sungai (K3), dan diameter sedimen (D95).

Bentuk pilar (Shape) adalah round nose. Sudut datang aliran menuju pilar (Angle) 0, bentuk dasar sungai adalah plane bed and antidune, dan diameter sedimen d95 adalah 56.7 mm.

Abutment Scour

HEC-RAS menghitung abutment scour di pangkal jembatan kiri dan kanan secara terpisah. HEC-RAS memakai persamaan HIRE atau Froehlich untuk menghitung abutment scour. Pengguna dapat memilih persamaan yang dipakai untuk menghitung abutment scour atau menyerahkan pemilihannya kepada HEC-RAS dengan menginputkan Default pada isian Equation (lihat Gambar 8).

image

Gambar 8: Layar editor data hitungan abutment scour

Pengguna memasukkan data jenis pangkal jembatan dengan memilih salah satu dari 3 jenis, yaitu vertical abutment, vertical abutment with wing walls, atau spill-through abutment. Selain itu, pengguna memasukkan sudut pangkal jembatan terhadap arah aliran sebagai data Skew dalam satuan derajat. Skew 90 jika pangkal jembatan menjorok ke dalam sungai tegak lurus arah aliran, < 90 apabila pangkal jembatan menjorok miring ke arah hilir, dan > 90 apabila pangkal jembatan menjorok miring ke arah hulu.Total Bridge Scour.

Total Bridge Scour

Setelah semua data contraction, pier, dan abutment diinputkan, hitungan kedalaman scour di masing-masing bagian (contraction scour, scour di setiap pier, dan scour di kiri dan kanan abutment) dilakukan dengan mengklik tombol Compute.

Kedalaman scour adalah kombinasi dari setiap bagian.

  1. Kedalaman scour akibat penyempitan alur (contraction scour) ditambah kedalaman scour di setiap pilar (pier scour).
  2. Kedalaman scour akibat penyempitan alur (contraction scour) ditambah dengan kedalaman scour di setiap pangkal jembatan (pangkal jembatan kiri dan pangkal jembatan kanan).

Hasil hitungan bridge scour disajikan dalam bentuk grafis (Gambar 9) dan resume atau ringkasan (Gambar 10).

image

Gambar 9: Presentasi grafis hasil hitungan bridge scour

image

Gambar 10: Resume hasil hitungan bridge scour

Tabel di bawah ini merangkum hasil hitungan bridge scour di atas.

Tabel 1: Estimasi kedalaman bridge scour

Scour (m) Abutment kiri Pilar #1 Pilar #2 Abutment kanan
Contraction 0.30 0.18 0.18 0.30
Abutment/pier 2.60 1.35 1.35 2.60
Total 2.90 1.53 1.53 2.90

Hasil hitungan pada contoh di sini menunjukkan kedalaman scour di semua pier sama. Hal ini disebabkan paramater aliran di setiap pier, yang diperoleh dari distribusi aliran (Flow Distribution Location) di setiap pilar adalah sama. Kedalaman scour di setiap pier tidak selalu sama, bergantung pada parameter aliran di setiap pier. Itulah sebabnya, opsi Flow Distribution Location pada simulasi steady flow analysis harus diaktfikan untuk menghitung parameter aliran di setiap pias.

Demikian pula, hasil hitungan pada contoh di sini menunjukkan kedalaman scour di pangkal jembatan kiri dan kanan adalah sama. Ini disebabkan geometri pangkal jembatan kiri dan kanan (data abutment) adalah sama dan, kebetulan, parameter aliran di pias pangkal jembatan kiri dan kanan juga sama. Inilah satu alasan lagi untuk mengaktifkan opsi Flow Distribution Location pada simulasi steady flow analysis.

Input Data

HEC-RAS memilih sendiri sebagian besar data yang diperlukan untuk menghitung bridge scour. HEC-RAS mengambil data geometri dari input yang pengguna masukkan pada definisi jembatan, yaitu data jembatan yang diinputkan pada layar editor geometric data. Untuk data parameter aliran, HEC-RAS mengambilnya dari output hasil hitungan (hasil run). Dalam hal ini, HEC-RAS mengambil data aliran di pias terdekat dengan posisi pilar atau pangkal jembatan. Oleh karena itu, pengguna perlu melakukan pencermatan terhadap jumlah pembagian pias pada opsi Flow Distribution Location. Lakukan sejumlah run dengan berbagai jumlah pias. Pilihlah jumlah pias sedemikian hingga jumlah pias tidak berpengaruh lagi terhadap hasil hitungan kedalaman bridge scour.

Namun demikian, apabila dikehendaki, penguna dapat pula mengubah nilai-nilai default setiap data yang telah ditetapkan oleh HEC-RAS. Setiap nilai data yang ditampilkan dengan warna font hijau pada layar editor Hydraulic Design – Bridge Scour (Gambar 6, 7, dan 8 ) dapat diubah oleh pengguna. Untuk melakukan ini, pengguna perlu mengenal setiap butir data. Silakan mempelajari arti setiap data tersebut di HEC-RAS User’s Manual, Chapter 12.

Acuan

Dalam menyusun artikel ini, saya mengacu pada tiga buku panduan HEC-RAS, yaitu:

  1. Hydrologic Engineering Center, 2010, HEC-RAS River Analysis System, Applications Guide, Version 4.1, January 2010, Chapter 11, U. S. Army Cormps of Engineers, Davis, CA.
  2. Hydrologic Engineering Center, 2010, HEC-RAS River Analysis System, Hydraulic Reference Manual, Version 4.1, January 2010, Chapter 10, U. S. Army Cormps of Engineers, Davis, CA.
  3. Hydrologic Engineering Center, 2010, HEC-RAS River Analysis System, User’s Manual, Version 4.1, January 2010, Chapter 12, U. S. Army Cormps of Engineers, Davis, CA.

Di samping itu, saya mengacu pula pada modul pelatihan pemakaian HEC-RAS yang telah saya susun, khususnya modul lanjut Junction and Inline Structures.

-ist-

This entry was posted in HEC-RAS and tagged . Bookmark the permalink.

28 Responses to HEC-RAS: Bridge Scour

  1. hany says:

    wah jawabnya panjang sekali pak terimakasih sekali, saya sekarang juga sedang memodelkan sistem drainase dengan polder dan pompa. Kalo polder nya diujung saluran bisa dimodelkan pak?kalo saya lihat di contohnya polder biasanya di samping saluran yang dihubungkan dengan lateral structure. Saya juga pernah membaca laporan (mgk ada Pak is juga ya) di forum teknik sipil KAJIAN GENANGAN BANJIR SUNGAI MUKE DI KABUPATEN
    TIMOR TENGAH SELATAN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
    DAN UPAYA PENGENDALIANYA tentang penggunaan polder.
    sekali lagi terima kasih pak

  2. ika apriyani says:

    Asswrwb…makasih ya pak atas kiriman modulnya

    oh iya ika mw tanya lagi ini tentang penggunaan bronjong di hec ras, ngomong2 perlakuannya kurang lebih sama ya pak dengan tanggul atau bagaimana..mohon penjelasannya dan kalo di hec ras langkah2nya gimana pak, terima kasih

    • admin says:

      Wa’alaikumsalam wr wb.

      Benar, bronjong dimodelkan dengan cara yang lebih kurang sama dengan tanggul apabila bronjong berfungsi sebagai tanggul atau perkuatan tebing sungai. Namun, apabila bronjong berfungsi sebagai krib, maka bronjong dimodelkan sebagai hambatan atau “obstruction”.

      Dalam hal bronjong berfungsi sebagai tanggul atau perkuatan tebing sungai, maka sebaiknya tidak ada perlakuan khusus terhadap bronjong. Bronjong menjadi bagian pembentuk tampang lintang sungai. Jadi data bronjong sudah masuk dalam data tampang lintang (cross section) sebagai data (Station, Elevation). Apabila diperlukan, nilai koefisien Manning n pada tampang lintang di bagian yang berbronjong dapat dibedakan dengan bagian yang tidak berbronjong. Gunakan fasilitas Options | Horizontal Variation in n Values yang ada pada layar editor Cross Section Data.

      Dalam hal bronjong berfungsi sebagai krib, yaitu tumpukan bronjong yang umumnya dipasang di tepi sungai menjorok ke alur, maka krib bronjong tersebut dimodelkan sebagai obstruction pada tampang lintang. Gunakan fasilitas Options | Obstructions … yang ada pada layar editor Cross Section Data. Jangan memodelkan krib sebagai bagian dari data (Station, Elevation).

      Terima kasih atas pertanyaan ini. Saya akan mencoba membuat paparan yang lebih banyak, dan semoga lebih jelas, setelah saya memperoleh foto tebing dan krib bronjong. Saya sudah melihat ada contoh yang bagus di salah satu ruas sungai di tepi jalan Yogyakarta – Magelang. Kapan-kapan saya sempatkan untuk memfotonya.

      Wassalamu’alaikum wr wb.
      istiarto

  3. ika apriyani says:

    Asswrwb…

    Maturnuhun ya pak…maap ika baru buka emailx lg, soalnya beberapa hari setelah ika kirim email tggu jawaban dari bpk tapi belum di jawab, ika kirain gd tanggapan dr bpk…pak mksh sekali jawabannya..ika dah buat dan memasukkan data bronjong yang sudah masuk dalam data tampang lintang (cross section) sebagai data (Station, Elevatioya), tp masih ragu apa sdh benar, tp liat jawaban dari bpk Alhamdulillah ternyata sama dengan apa yg ika dan kwan ika diskusikan…
    Ika minta maap y pak baru liat emailnya, tapi g apa kan pak kalo suatu saat ika bertanya lagi mengenai Hec Ras….

    Semoga aja ilmu yang bapak berikan bermanfaat bagi kami semua, Aminn

    • admin says:

      Sama-sama. Silakan, kalau ada hal-hal yang ingin didiskusikan, dengan senang hati akan saya coba untuk membantu.

  4. hary says:

    Ass. Wr. Wb.
    Maaf pak, baru buka dan balas email dari bapak. soallnya kemarin saya harus cepat-cepat ke kampus (asistensi, udah ditunggu pak dosen). Iya klo menurut saya untuk saya sendiri modul bapak inilah yang gampang dicerna dan diterapkannya. Soallnya saya sebenarnya sudah pernah mempelajari dari modul-modul hec ras lainnya, tapi malah bingung sendiri (hex4). Bukan maksud memuji bapak, tapi memang dng modul tersebut saya jadi mengerti. Klo kekurangannya yaitu pak, (maaf sebelumnya) saya harus membuat analisa tentang trasport sedimen sungai yang ada bangunan bendung dan groundsill, tetapi belum berhasil-berhasil karena tidak tau caranya (nyambung anak sungainya, imputing & proses/analisa data bangunan sungai dan sedimen di HEC RAS.) Jadi mohon bantuan bapak agar dapatnya saya diberi tahu caranya/modul-modulnya. Kasihani saya pak, tugas akhir/skripsi saya tidak kelar-kelar karena hal tersebut. Makasih seblumnya pak.

    • istiarto says:

      Wassalamu’alaikum wr wb.
      Maaf, saya lupa. Sudahkah saya memberikan tanggapan tentang hal ini kepada Anda? Perasaan saya sudah mengirimkan email.
      Wassalamu’alaikum wr wb.

  5. masdar says:

    assalam….
    pak, saya sudah mengaplikasi hec-ras untuk perkuatan tebing..cuman saya harus mengaplikasi hec-hms juga untuk menentukan debitnya…karena data yang ada hanya curah hujan dari beberapa stasiun dan luasan DAS.
    ketika saya masukkan data Q1, Q2, Q5, Q10, Q25, Q50 dan Q100 pada stedy flow sudah bisa running….tetapi ketika saya pakai unsteady flow kok gak jalan ya pak…
    komentarnya seperti ini :
    HEC-RAS Error – Incomplete unsteady flow data, the following errors were found:
    plan file: f:\HEC-RAS&HEC-HMS\xxxxxx\testsaluran.p04
    geom file: f:\HEC-RAS&HEC-HMS\xxxxxxxx\testsaluran.g01
    flow file: f:\HEC-RAS&HEC-HMS\xxxxxxxxx\testsaluran.u02

    Boundary at River: xxxxxx Reach: yyyyyy RS: 0
    Undefined values found in the time series data. The boundary data must span the computation window.
    Stage(s) in time series data are below the cross section minimum.
    sengaja nama sungai dan reach nya saya hilangkan pak….
    matur nuwun….

    • istiarto says:

      Panjang data hidrograf muka air di batas hilir (downstream boundary condition) kurang panjang, lebih pendek daripada panjang waktu simulasi. Pastikan bahwa hidrograf muka air (stage hydrograph) di RS 0 memiliki panjang data (waktu) yang sama dengan panjang waktu simulasi. Di samping itu, pastikan pula bahwa elevasi muka air pada data ini tidak lebih rendah daripada elevasi terendah pada data Elev RS 0 yang ada di geometry data (tampang lintang) RS 0.
      Semoga saran saya dapat menyelesaikan permasalahan yang Anda temui.

  6. terima kasih bapak istiarto,, saya coba pelajari terlebih dulu..

  7. terima kasih bapak istiarto,, saya coba pelajari terlebih dulu..
    saya coba dulu dengan sungai studi saya..

  8. Ilham Prayudha Hutama says:

    Assalamuallaikum pak istiarto.
    Saya sedang meneliti tentang sediment transport disuatu sungai, dalam sungai tersebut terdapat groundsill, saya membuat groundsill dengan inline stucture, kemudian groundsill tersebut memiliki lantai kerja sapanjang 50 m, pada cross section tsb angka manning saya rubah sesuai angka manning beton. Tetapi setelah di run, HEc – RAS masih mensimulasikan bahwa masih ada gerusan pada lantai kerja tsb. Mohon pencerahan dari bapak tentang hal tetrsebut, apa mungkin ada kesalahan dalam pekerjaan saya
    terimakasih
    Wassalamuallaikum.

    • Istiarto says:

      Wa’alaikumsalam ww

      Untuk mendefinisikan lantai beton, yang tidak dapat dierosi, aturlah volume kontrol (control volume) di semua RS yang ada di bagian lantai beton, satu RS di hulu lantai, dan satu RS di hilir lantai sedemikian hingga RS-RS tersebut tidak mengalami degradasi (erosi).

      1. Aktifkan window pengaturan data sedimen dengan mengklik menu Edit | Sedimen Data ….
      2. Pada tab Initial Conditions and Transport Parameters, perhatikan RS-RS yang volume kontrolnya akan diatur.
      3. Isikan pada kolom Min Elev angka elevasi permukaan lantai beton, atau isikan pada kolom Max Depth angka nol apabila elevasi dasar RS sama dengan elevasi permukaan lantai beton. Pilih salah satu, tetapi saya lebih suka mengisi kolom Min Elev.
      4. Isikan titik batas kiri lantai beton pada kolom Sta Left dan titik batas kanan lantai beton pada kolom Sta Right.
      5. Isian pada kolom Bed Gradation diisi sesuai dengan jenis gradasi butir material dasar di RS tersebut.

      Wassalamu’alaikum ww

      • ilham prayudha hutama says:

        Assalamualaikum bapak
        Maaf baru sempat membalas, terima kasih banyak untuk jawabannya
        Sangat memanfaat sekali untuk saya sebagai pemula

  9. Arahman says:

    Gimana cara dapatkan masternya hec – cras

  10. masyhuri says:

    ass. pak istiarto.
    pak apakah saya boleh diemailkan terkait dengan modul panduan hec-ras lanjutan..untuk rencana penelitian…terima kasih. sebelumnya.
    Wassalamu’alaikum ww

    masyhuri

  11. arfida says:

    Asswrwb…pak saya bisa minta modul junction n inline structure ?
    Terimakasih…

  12. Hariadi says:

    selamat pagi pak is,
    disini saya mau menanalisis sedimen transport akibaat adanya kaki jembatan pada penampang sebuah sungai menggunakana aplikasi HEC-RAS,
    Pertama, data apa saja yang saya perlukan? disini posisi saya baru mulai pak, dan pemula untuk aplikasi HEC-RAS,
    kemarin sudah survei ke PJT sama BBWS terdapatt data AWLR pada UpStream Boundary Condition sama DSBC dari kaki jembatan tersebut, ada pula gambar cross section dari sungai tersebut,
    mohon maaf juga pak, kalo boleh sama bisa diberikan pandangan pak Istiarto menganai konsep analisis sedimen transport menggunakan hec ras tersebut pak,

    terima kasih sebelumnya,

    • Istiarto says:

      Selamat sore Mas Hariadi.

      Hitungan transpor sedimen di sungai diterapkan pada alur yang panjang dan durasi yang lama atau pada lokasi tertentu. Kasus pertama, yaitu transpor sedimen di alur panjang, ditujukan terutama untuk menghitung perubahan dasar sungai di alur tersebut. Kasus kedua, yaitu transpor sedimen di lokasi tertentu atau setempat, ditujukan terutama untuk menghitung kedalaman gerusan di tempat itu saja. Ini dikenal dengan istilah gerusan lokal. Kasus Mas Hariadi tampaknya masuk ke dalam kategori gerusan lokal. Yang dihitung adalah gerusan di sekitar pilar jembatan atau di sekitar pangkal jembatan.

      HEC-RAS memberi fasilitas untuk menghitung gerusan lokal di sekitar pilar/pangkal jembatan. Prosedur tidak sulit. Setelah melakukan simulasi aliran, lakukan hitungan gerusan lokal dengan memakai persamaan empiris yang telah disediakan oleh HEC-RAS. Ada beberapa pilihan jenis persamaan gerusan lokal yang dapat dipakai. Prosedur simulasi aliran dapat dipelajari dari modul saya yang pertama, HEC-RAS Dasar: Simple Geometry River. Modul ini dapat didownload langsung tanpa password. Apabila alur sungai yang dimodelkan tidak memiliki pertemuan atau percabangan alur, modul ini sudah cukup sebagai bekal.

      Mas Hariadi dapat pula menghitung transpor sedimen di sepanjang alur sungai, bukan gerusan lokal. Di sini, pengaruh jembatan terhadap perubahan transpor sedimen tidak akan tampak. Artinya, tidak mungkin untuk mempelajari pengaruh jembatan terhadap perubahan pola transpor sedimen di alur sungai yang panjang.

      Semoga jawaban saya dapat membantu Mas Hariadi.

      Salam,

      Istiarto

  13. Dina Wijayanti says:

    Pak istiarto yan saya hormati..
    saya mau tanya pak untuk penginputan cross section pada tabel cross section coordinates itu apa hanya berdasarkan elevasi dasar sungai saja pak? atau ada penambahan parameter lain?
    mohon bantuannya pak.. Terima kasih

  14. Dyan Eka says:

    Assalamualaikum wr.wb. Pak saya mau tanya, di dalam contoh bapak ini, pada flow optimization option ada junction yang aktif dan dapat dicentang. Saya juga memodelkan junction pak, akan tetapi pada optimization option, ada junction yang aktif dan tidak. Junction yang aktif, junction yang alirannya terbagi dua, sedangkan aliran yang bertemu di satu titik tidak aktif. Apakah aliran junction mempengaruhi hal ini pak? Atau saya ada yang salah dalam memodelkan junction? Mohon bantuannya pak. Terimakasih.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    • Istiarto Istiarto says:

      Wa’alaikumsalam ww.
      Junction yang berupa pertemuan memang sudah pasti memiliki debit aliran yang merupakan jumlah debit aliran dari anak-anak sungai. Jadi, tidak ada yang salah dengan model Mbak Dyan Eka.
      Wassalamu’alaikum ww.

      • Dyan Eka says:

        Oh begitu, ya pak terimakasih jawabannya. Tapi saya ada pertanyaan lain pak. Hasil running saya menggunakan pemodelan jembatan, di hilirnya debit menjadi minus itu running saya ada yang salah atau bagaimana pak? hanya cross section yang tepat di hilir jembatan yang minus, semakin menjauhi jembatan debit kembali normal.

        • Istiarto Istiarto says:

          Tidak selalu berarti salah. Apakah simulasi sukses tanpa ada pesan kesalahan (error)? Periksa di layar computation. Jika semua pita berwarna biru, itu indikasi kalau simulasi berjalan sampai akhir. Setelah itu, pastikan tidak ada pesan error.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.